Untuk Kita Renungkan

UNTUK KITA RENUNGKAN

Oleh Zulkifli ijoel

Kita melihat fenomena yang terjadi pada masa kini betapa banyaknya pasangan suami isteri yang kandas ditengah jalan, mereka memilh bercerai dari pada mempertahankan rumah tangganya,  padahal rumah tangganya yang baru  dibangun belum berumur setahun jagung, perceraian tersebut dipicu oleh ketidak mampuan pasangan memahami makna sebuah perkawinan, padahal perkawinan adalah sebuah  ikatan lahir  dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha esa.


Perkawinan itu pada hakikatnya adalah membentuk rumah tangga yang harmonis penuh dengan kedamaian dan dihiasi dengan cinta dan kasih sayang dengan penuh rasa tanggung jawab antara suami sebagai kepala rumah tangga dan isteri sebagai ibu rumah tangga yang di dalam alquran disebut  “ Wa’asyiruhunna bil ma’ruf “ dan pergaulilah isterimu secara ma’ruf (patut) (Annisa’ Ayat 19).

Dalam sebuah rumah tangga suami  adalah seorang pilot yang dapat menghantarkan isteri dan anak-anaknya ketujuan dengan selamat, tidak terjadi sesuatu apapun, meskipun terjadi gangguan-gangguan dalam sebuah penerbangan, cuaca yang buruk, ataupun ada kerusakan kecil, angin kencang, namun sang pilot tetap berusaha untuk menyelamatkan penumpangnya dan selamat pula sampai ketujuan akhirnya, maknanya suami bagaikan seorang pilot apapun gejolak yang terjadi dalam sebuah rumah tangga, pasti ia akan selamatkan karena kesalamatan isteri dan anak-anaknya  merupakan kebahagiaan bagi sang pilot.

Untuk itu perlu kita renungkan bahwa setiap pasangan suami isteri perlu memahami kekurangan dan kelebihan dan karakter masing-masing pasangan dan tentunya persoalan yang  dihadapi dalam rumah tangga diselesaikan dengan cinta (love) dan kasih sayang,  kasih (mawaddah) itu tidak terbatas antara suami dan isteri tetapi juga akan mencakup keluarga kedua belah pihak sehingga perkawinan didukung oleh rasa cinta antara keluarga masing-masing pihak. Kemudian rasa sayang (rahmah) yang terpancar dari lubuk hati yang bersih antara satu dengan lainnya sejak perkawinan tentunya membuahkan tanggung jawab dan kesetiaan akan terus tumbuh apalagi perkawinan itu telah membuahkan anak, kasih sayang itu berawal dari suami kepada isteri dan sebaliknya isteri kepada suami, maka ketika sudah ada anak yang merupakan anugrah Allah, rasa kasih sayang itu akan bertambah dengan kasih sayang ayah dan ibu kepada anaknya dan seterusnya. Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam membangun kehidupan keluarga yang diinginkan sebagai berikut :

1.      Bagi setiap orang kehidupan keluarga hendaknya didasari pada mawaddah dan rahmah,  sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 21 yang artinya “ Dan diantara tanta-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan diantara kamu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

2.      Sesungguhnya tujuan hidup seorang adalah sesuatu yang kualitatif, yaitu ampunan dan ridho Allah, oleh karenya setiap insan harus hati-hati memimpin keluarganya dan tentunya mengkondisikan keluarga berilmu, beramal shaleh dengan menjunjung tinggi segala perintah Allah dan rasulnya, kemudian menciptakan hidup dalam keadaan damai pada keluarga, dimana antara suami isteri terdapat saling pengertian, saling membantu, saling menghormati dengan landasan cinta dan kasih sayang.

3.      Sebuah keluarga sakinah maknanya adalah keluarga yang patut menjadi idaman setiap orang karena itulah yang merupakan surga dunia baginya, dan keluarga sakinah itu tentu berpangkal pada ketentraman hati karena suami sudah bertempat di dalam hati isterinya, dan isteri telah bertempat didalam kalbu suaminya yang seiman, dalam hati masing-masing sudah tidak ada lagi tempat bagi orang lain, lahiriah kelihatan dua badan tetapi sudah satu hati, satu perasaan, satu kemauan dan satu pula tujuan yang ingin dicapai ialah keluarga bahagia lahir dan batin yang diredoi oleh Allah Swt. 

Kalaulah demikian halnya, suami isteri yang sudah memahami nilai-nilai keluarga yang telah diajarkan oleh Alquran, saling memposisikan dirinya sebagai pasangan yang baik, saling memaafkan ketika ada persoalan sehingga impian keluarga menjadi harapan menjadi keluarga  yang sakinah, keluarga yang  mawaddah warohmah akan menjadi nyata dan mereka akan bermotokan hidup “berat sama dipikul ringan sama dijinjing, ke bukit sama mendaki, ke lembah sama menurun”, maka semua pekerjaan dan persoalan yang dihadapi pasangan suami isteri dapat teratasi dan terasa sebagai kewajiban yang sangat menyenangkan, setiap tugas  dikerjakan dengan sesungguhnya didorong oleh hatinya, bukan karena takut dimarahi oleh suami, atau takut dimarahi oleh isteri. Cinta dan kasih sayang dalam sebuah keluarga, yang timbul dari lubuk hati yang sangat dalam merupakan embun pagi yang menyegarkan untuk menghadapi tantangan tariknya matahari dikala siang dan cinta  kasih itu pula yang dapat membuat sebuah rumah tangga menjadi semerbak bagaikan sebuah taman dengan kembangnya yang selalu mekar.

Sungguh mulia dan agung sekali, makna dan hikmah yang terkandung dalam kata “mawaddah” dan  “rahmah” yang diinformasikan Allah dalam surat Ar rum ayat 21, merupakan dorongan cinta kasih, masing-masing sebagai suami isteri berbisik dalam hatinya, “ rumahku istanaku, isteriku permaisuriku dan suamiku pahlawan dihatiku, suamiku pilot yang menerbangkan hatiku sampai ketujuan dengan selamat dan menyenangkan”.

Sebagaimana judul tulisan ini “ untuk kita renungkan “. Bagaimana agar rumah tangga atau keluarga yang harus dibangun itu dapat meraih kesuksesan dan cita-cita yang mulia itu, jawabannya tidak lain kecuali harus menjadikan Islam sebagai tuntunan dan tata  aturan dalam mengayunkan bahtera rumah tangga tersebut.

Ditengah-tengah masyarakat sering kita saksikan kemelut drama rumah tangga yang berujung pada runtuhnya bangunan rumah tangga tersebut yang penyebab utamanya ialah karena penghuni rumah tangga itu tidak berpijak pada tuntunan Islam dalam mengatur dan mengendalikan rumah tangganya, kalau saja tuntunan Islam dalam membangun rumah tangga itu dijadikan acuan, niscaya hal-hal yang memprihatinkan itu tidak akan terjadi.

Yang pasti setiap orang akan menghadapi  permasalahan kehidupan dalam menjalankan roda rumah tangga memang tidak dapat disangkal sekalipun bervariasi dan berbeda kadarnya, akan tetapi apabila dalam hal ini benar-benar mampu menjadikan tuntunan Islam sebagai pedoman, maka Insya Allah betapapun hebatnya tantangan dan permasalahan itu akan dapat kita selesaikan dengan baik. Semoga kita dapat meujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah dan keluarga yang mendapatkan ridho Allah, selamat dunia dan akhirat. Ditulis oleh Zulkifli ijoel PA Bangkinang.

 

 

 

  • Pengadilan Agama Bangkinang Kelas I B

    Jalan Jend. Sudirman No. 99 Bangkinang
    Telp/Fax (0762)20176
    email : pa.bangkinang@yahoo.com
    © Copyright 2016 Pengadilan Agama Bangkinang Kelas I B