Malin Kundang Di Zaman Modern

         

        Malin kundang merupakan sebuah cerita rakyat yang begitu melegenda, cerita rakyat ini berasal dari negri ranah minang. Semua orang tentunya sudah mengetahui bagaimana cerita malin kundang, yang mengisahkan seorang anak yang durhaka kepada orang tua (ibu kandungnya sendiri), ketika seorang anak yang telah memiliki segalanya, materi, isteri yang cantik, kekuasaan maka ia lupa bahkan tidak mau mengenal ibu kandungnya sendiri karena malu seorang yang begitu terhormat memiliki seorang ibu yang tua renta dan miskin. Ibu yang telah mengandung dan memelihara serta menjaga anak sampai anak tersebut dewasa dengan penuh kasih sayang dibuang dari benak dan pikirannya bahkan membohongi hati nurani. Karena kedurhakaan Malin kundang maka ia dikutuk oleh ibunya menjadi batu.


          Cerita rakyat Malin kundang yang begitu melegenda terjadi lagi di era modern saat ini. Hanya aktor dan pelakonnya yang selalu berganti namun kisah dan ceritanya tidak jauh berbeda. Seperti kasus Ibu Fatimah yang di gugat 1 milyar oleh anak dan menantunya sendiri di  Pengadilan Negri Tangerang karena sengketa lahan seluas 397 M2, kasus-kasus di Pengadilan Agama Bangkinang dimana anak menggugat orang tuanya karena masalah harta warisan, harta bersama, ini merupakan sampel dari banyak contoh yang lainnya yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Keadaan ini memang miris dan diluar nalar kita sebagai manusia yang berpikir normal. Bagaimana tidak dengan tingkat wawasan dan pendidikan yang semakin tinggi ternyata tidak menjamin kisah Malin kundang tidak terulang lagi. Ternyata keserakahan, ketamakan dan demi menjaga serta menaikkan prestise sering kali akal sehat dikalahkan sehingga tidak dapat berfikir dengan baik.  
Allah Swt telah mengingatkan kita di dalam Alquran bagaimana seharusnya kita berbakti kepada orang tua, firmah Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْلَهُمَاقَوْلًاكَرِيمًا
Artinya : ” Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali hanya kepadaNya, Dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah seorang atau keduanya berada dalam pemeliharaanmu sampai berumur lanjut, janganlah sekali-kali berkata kepada mereka “Uf” dan janganlah membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra’ : 23-24)
Rasullulah juga telah memberikan contoh dan teladan yang baik bagaimana pentingnya berbakti kepada orang tua sebagaimana hadis yang di riwayatkan Abu Hurairah ra., ia berkata : Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621).
Kemudian hadis nabi Muhammad Saw
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)[1]
                Islam telah memberikan referensi dan banyak sekali literatur bagaimana sepatutnya seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Hilangnya nilai – nilai agama didalam masyarakat inilah yang kemudian merusak dan menghancurkan moral dan akhlak masyarakat, sehingga kasus-kasus persengketaan antara orang tua dan anak masih sering terjadi. Jika agama sudah menjadi cermin dan akhlak rasullullah Saw yang menjadi tauladan tentu kisah –kisah miris sebagaimana cerita Malin Kundang tidak terjadi lagi di zaman sekarang ini.
Kisah Malin kundang tersebut merupakan kisah rakyat sebagai pengingat dan pelajaran bagi kita agar menghormati dan berbakti kepada orang tua.  Hendaknya apa yang terjadi  pada maling kundang menjadi ikhtibar bagi kita semua supaya tidak terjadi kisah yang sama di era modern. Sebagaimana Allah mengingatkan kita dalam Alquran Surat Yusuf Ayat 111
yang artinya : Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”  
tidak semua diantara kita menjadi orang tua akan tetapi semua dari kita adalah anak, semoga kita senantiasa dalam naungan dan petunjuk Allah SWT dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua ...oleeh Edy_efrizal@ocuuu

  • Pengadilan Agama Bangkinang Kelas I B

    Jalan Jend. Sudirman No. 99 Bangkinang
    Telp/Fax (0762)20176
    email : pa.bangkinang@yahoo.com
    © Copyright 2016 Pengadilan Agama Bangkinang Kelas I B